Pintar-pintarlah berujar.
Hal paling memuakkan (*bagi saya), ketika pergi ngelayat. Lalu, keluarga almarhum menceritakan sejarah penyakitnya, trus sebagai seorang medis, lo bakalan "nge-judge" segala upaya yang sudah mereka lakukan, daaan lo menjelaskan patofnya seolah2 dengan omongan lo itu bisa ngidupin lagi "orang yang tidur dipeti itu".
Emang ada nyed yang kayak gitu?
Banyak!!!
Gini ya, lo boleh bergelar dokter atau apapun yg berhubungan dengan medis. Lo boleh ngerti segala patof, prognosis, terapi blaaa....blaaa....blaaaaa. but, ketika orang yang terkasih mereka sudah pergi, dan posisi lo cuman sebagai "pelayat", bisakan mulut lo menjadi jauh lebih pintar, dengan tidak lagi menggurui tentang hal2 yang sudah lalu. Ga usah lagi mempertanyakan segala obat, dokter dan hal2 yang sudah mereka usahakan. Ga ada gunanya, kecuali...lo adalah dokter yang biasa menangani alm.
Akan jauh lebih bijak dan sopan, jika kita hanya mendengarkan. Tanpa berusaha menunjukkan "niiih gue juga dokter", "nih patofnya gini", atau "niih harusnya blaaa.blaaaa.blaaaa". Karna tidak ada gunanya juga. Dan coba perhatiin baik2, tidak semua orang benar2 ingin penjelasan itu, kecuali dengan itu, alm bisa lo idupin lagi. Mereka hanya ingin didengarkan. Karna sebagian dari mereka, hanya ingin dikuatkan. Bukan dikuliahi, mas bruh!
Bijaklah menggunakan ilmu, jagalah ucapmu, tempatkanlah "keprofesionalan" mu, tepat pada tempatnya.
Mengatakan segala sesuatu bukan hanya harus dipikir dulu, tapi juga harus tau kapan, dimana dan bagaimana kita menyampaikannya.
Karna "nada" yang kamu ucapkan pada kata "brengsek", bisa berarti 2 hal, kamu memaki atau bercanda. Paham?
#justnote
Benyada Remals "dyzcabz"
Komentar
Posting Komentar