Utang rasa (Tentang Noke entah keberapa ratus)
tentang noke, entah keberapa ribu kalinya.
pa, dengerin deh, cerita kaka hari ini. Subuh ini. Kaka ngga bisa tidur. Proposalnya udah kok.
Udah siap maju, tanggal 24 Juni nanti.
Entah berapa puluh gelas kopi yang saya habiskan, untuk menyelesaikan ini, pa.
Papa, kaka capek banget. Banget. Mau tau bagian terlucunya? Saya bahkan ga bisa mengeluhkan ini, pa. Saya yang papa bentuk adalah saya yang selalu kuat sendirian'kan pa? Saya yang seperti ini, yang sulit untuk dikembalikan. Hingga dia ada, kan, pa?
Kaka kangen banget sama papa. Mungkin ini akan terdengar sangat berlebihan, karna sudah 8 tahun, namun anak perempuan ini tetap sesakit ini. Patah hati yang dia bawa hari itu, tinggal menetap seumur hidupnya. SEUMUR HIDUPnya.
Ini gila sih. Papa, saya mau peluk papa sebentar aja. Saya pengen nangis, sebentar aja. Saya ngga baik2 aja papa. Saya bener-bener ga baik2 aja. Sulit untuk membahasakannya, pa. Saya berdiri sendiri, seperti yang saya lakukan, saat papa disini. Tapi setidaknya, saat itu, saya tau, saya akan selalu menemukan papa saat pulang.
Saya capek banget pa. Mungkin ini terdengar sangat klise. "ya iyalah, sekolah spesialis kan emang berat", "ya lo taulah kan, emang berat", "inikan yang lo mau, jalanin lah"
Papa, im not okay, pa. I miss you!
saya kangen banget, nelpon papa malam2 dan denger papa bilang ...gimana sayang, papa jemput nona, kita jalan2 kah? apa yang susah sayang? Apa yang bisa papa bantu, non?
Saya kangen banget. Mendengar papa berdoa untuk saya. Saya kangen banget, cerita banyak hal sama papa. Ketika papa pergi, saya tau, saya akan sangat kehilangan, orang yang mendengarkan saya. Orang yang tau, bagaimana menghandel manusia keras kepala ini. Orang yang mampu, membuat saya berani bermimpi tentang banyak hal.
Papa, 3 hari lalu, saya bilang ke mama. Saya capek banget. Saya bener-bener pengen rehat sejenak. Selama ini, saya berlari terlalu jauh, pa. Saya membuat diri saya, begitu kelelahan untuk menjaga kewarasan saya. Saya memaksa saya, untuk menjadi superhuman, pa.
Papa bayangin aja, abis CBT, saya kejar Proposal, dan tetap menjalankan Ujian-ujian organ. Dan, tetap menjalankan pelayanan, dan ilmiah. Bagian lucunya itu, sebagian diri saya, menikmati kegilaan ini. Sebagian lagi, hancur perlahan pa.
Saya senang mempelajari hal-hal baru, membaca banyak hal, saya suka belajar, papa pasti tau itu. Hal yang diturunkan dengan benar dari papa. Hanya saja, ini mulai menakutkan pa.
Rasanya segala sesuatu, terasa asing. dan, jedijah, dipaksa harus mengerti, harus mampu memahami dan akhirnya menjalani dengan tabah. Harus mampu mewaraskan dirinya. Tetap waras katanya, pa.
Papa, doain saya ya, tanggal 24 ini, saya maju ujian proposal. Rasanya, setelah itu, saya pengen nangis sebentar aja. Cengeng ya, pa? Dulu kalo papa ada, papa pasti bilang "kenapa nangis? Kan nona berjuang untuk ini, semua yang nona perjuangkan dengan benar, Yesus akan membuatnya berhasil, sayang. Papa percaya, anak papa selalu bisa."
Papa percaya, anak papa selalu bisa.
Kalimat ini, adalah mantra gila yang selalu bernyanyi dalam kepala saya, pa. Disaat harus revisi, harus nyari jurnal-jurnal baru. Disaat saya begitu lelah, bahkan untuk minum aja saya harus diingatkan. Setiap kali, saya "merasa kalah", "merasa bodoh", mantra itu akan otomatis keluar di dalam otak saya. Bersenandung perlahan, "Noke percaya lo bisa, nyed. Selesaiin!"
Papa pergi, bahkan tidak ada tempat yang bisa saya kunjungi untuk mengadu. Karna Noke mendidik saya, untuk KUAT BERDIRI TANPA DIA. Sehingga dalam kondisi paling hancurpun, ayah saya paham, bahkan didikannya akan selamannya tertanam dengan benar pada anak2nya. Tidak menyerah. Berjuang sampai akhir. Hapus airmatamu, saya tidak didik kamu jadi cengeng! Kamu memilih battle ini dan bertanggung jawab sampai selesai.
Papa, maaf ya, masih ada cengeng. 8 tahun, hanya ada sedikit perbaikan. Jedijah si keras kepala itu kembali, pa. Walaupun dia kadang ragu, bahwa di depan sana, akan baik2 aja ngga?
Nyed_

Komentar
Posting Komentar